SEDANG DALAM TAHAP KONSTRUKSI!!!

KECAMATAN TAKERAN

Nama-Nama Desa/Kelurahan di Kecamatan Takeran di Kota/Kabupaten Magetan .Takeran adalah sebuah nama kecamatan di Kabupaten Magetan, Provinsi Jawa Timur, Indonesia.
Kecamatan ini dulu dikenal sebagai salah satu pusat pengembangan Islam di wilayah itu. Hal ini ditandai dengan kehadiran pesantren yang dikenal dengan Pesantren Sabilil Muttaqien (PSM), yang dirintis oleh seorang keturunan salah satu pengikut Pangeran Diponegoro yang melarikan diri ke timur. Dia adalah Kyai Hasan Ulama kurang lebih pada tahun 1880 dan menamainya dengan nama Pondok Takeran. 

Perkembangan selanjutnya Pondok Takeran di lanjutkan oleh Kiai Imam Muttaqien pada era 1948-an. Kiai Imam Muttaqien ini menjadi korban keganasan gerakan Partai Komunis Indonesia yang kala itu punya basis massa kuat di wilayah Kabupaten Madiun dan Magetan.

Kemudian di lanjutkan KH. Mohammad Umar bin Hasan Ulama, KH. Abu Syukhur Salim dan KH. Imam Arwahun, serta KH. Imam Mursyid Muttaqien bin Imam Muttaqien (hingga 1943). Tanggal 16 September 1943, di masa KH. Imam Mursyid Muttaqien, nama Pondok Takeran berganti menjadi Pesantren Sabilil Muttaqien (PSM). Berbarengan dengan itu didirikan pula cabang-cabang madrasah PSM hingga ke seluruh wilayah Magetan.Salah satu santrinya yang terkenal adalah K.H. Muchtar Syaiin yang mengembangkan pesantren ini sehingga memiliki sekolah modern seperti madrasah tsanawiyah, Sekolah Menengah Atas Panca Bhakti, sekolah luar biasa, sekolah menengah khusus.

Seperti pola kepemimpinan kebanyakan pesantren, Sabilil Muttaqien dalam perjalanannya pun berganti-ganti dipegang oleh keturunan langsung dari pendirinya. Ada nama-nama seperti KH. Imam Muttaqien (1900-an), KH. Mohammad Umar bin Hasan Ulama, KH. Abu Syukhur Salim dan KH. Imam Arwahun, serta KH. Imam Mursyid Muttaqien bin Imam Muttaqien (hingga 1943). Tanggal 16 September 1943, di masa KH. Imam Mursyid Muttaqien, nama Pondok Takeran berganti menjadi Pesantren Sabilil Muttaqien (PSM). Berbarengan dengan itu didirikan pula cabang-cabang madrasah PSM hingga ke seluruh wilayah Magetan.

Dalam lingkungan PSM seluas 5 hektare terdapat beberapa fasilitas masjid dan musholla, lokal asrama santri, lokal belajar (Ibtidaiyah, Tsanawiyah dan Aliyah), serta beberapa sarana penunjang seperti aula, workshop dan fasilitas olah raga. Santri yang belajar dikategorikan dalam 4 jenis, yaitu santri kalong, mukim dan Ikatan Warga Pelajar/IWP (seluruh pelajar Ibtidaiyah, Tsanawiyah dan Aliyah) PSM serta Pemuda PSM (santri yang bertempat tinggal di sekitar PSM).

Tahun 1977, PSM pernah memelopori aksi transmigrasi warga pesantren, yang disebut dengan istilah "Jebol Pesantren." Setiap rombongan transmigran (tahun 1977-1980 berhasil memberangkatkan 354 KK) selalu terdapat unsur kyai, pamong dan guru. Karena inisiatifnya itu, PSM mendapat penghargaan "Kalpataru" tahun 1986 dari pemerintah.

Salah seorang santri di pesantren PSM Takeran ini kemudian melahirkan tokoh pers nasional yakni Dahlan Iskan, bos Jawa Pos Group. Dahlan adalah penduduk kelahiran kelurahan Takeran.

Adapun  Nama-Nama Desa/Kelurahan di Kecamatan Takeran di Kota/Kabupaten Magetan, Provinsi Jawa Timur adalah  :
  1. Kelurahan/Desa Duyung (Kodepos : 63383)
  2. Kelurahan/Desa Jomblang (Kodepos : 63383)
  3. Kelurahan/Desa Kepuhrejo (Kodepos : 63383)
  4. Kelurahan/Desa Kerang (Kodepos : 63383)
  5. Kelurahan/Desa Kerik (Kodepos : 63383)
  6. Kelurahan/Desa Kiringan (Kodepos : 63383)
  7. Kelurahan/Desa Kuwonharjo (Kodepos : 63383)
  8. Kelurahan/Desa Madigondo (Kodepos : 63383)
  9. Kelurahan/Desa Sawojajar (Kodepos : 63383)
  10. Kelurahan/Desa Takeran (Kodepos : 63383)
  11. Kelurahan/Desa Tawangrejo (Kodepos : 63383)
  12. Kelurahan/Desa Waduk (Kodepos : 63383)

1 komentar:

TRI GW mengatakan...

Banyak yang belum tahu ada sesepuh penasehat Raja Eyang Gedhe Takeran merupakan Brahmono ROJO Prabu Brawijaya V yang dimakamkan di Desa TAKERAN, Saat sebelum wafatnya masih bergelar Manggolo Yudho Sardulo Cemani saat itu bersama dengan Raden Patah membela Prabu Brawijaya V bertempur dengan pasukan musuhnya dengan gelar pasukan Garuda ngalayang Eyang Gedhe Takeran Sardulo Cemani disayap kanan, Raden Patah Jinbun di sayap kiri dan prabu Brawijaya diposisi terlindung diamonD
Hingga terakhir Prabu Brawijaya loka mahkota, dan loka moksa, kemudian masuk ke telaga Wali menganut agama Islam dibaiat Sunan Kalijogo, Sedang Eyang Gedhe Takeran sudah Islam dibawah baiat Sunan Muria hingga sebelum wafatnya sering sholat tahajjud dengan lampah Sardulo Cseta, sering kali masyarakat ditemui harimau putih itu amalan ilmu beliau untuk melindungi seluruh masyarakat daerah Takeran Magetan ditahun +_ 1508

Posting Komentar